Secuil
Harap, Bertabur Makna..
Mari
kita awali tulisan ini dengan Bismillah,
Karena pangkal segala kebaikan,
permulaan segala urusan penting, dan dengannya juga kita memulai segala urusan-
Badiuzzaman Said Nursi
Kali
ini saya ingin berbagi makna perjalanan tentang kisah hidup saya yang Allah
tuliskan di skenario terbaik-Nya. Iya, terutama ketika Allah memberikan jalan
saya menjadi Guru pengajar di Sekolah yang banyak teman kampus saya dambakan ketika
itu yaitu Sekolah Islam Al-Azhar Cairo Palembang. Jujur, awalnya saya tidak
banyak mengenal Sistem kerja Sekolah ini seperti apa tetapi semakin kesini saya
takjub dibuatnya. Bagaimana bisa Allah gerakkan hati ini untuk mendaftar
menjadi guru pengajar disekolah itu? Ternyata, Allah jawab segala pertanyaan
membelenggu hingga saya lagi, lagi dibuat takjub olehnya.
Baiklah,
perjalanan cerita ini saya beri judul Secuil
Harap, Bertabur Makna ketika Allah memberi saya tempat untuk mencari rezeky
ditempat yang masuk kriteria saya dalam memilih kerja pascakampus yang ketika
itu pernah saya tulis dibuku khusus kajian tiap minggu. Pada saat itu, saya membuat
wishlist kriteria tempat dalam
memilih pekerjaan salah satunya keadaan sekolah yang islami sehingga iman tak
terlalu dibuat up and down, peserta didik yang mendahulukan
adab dari ilmu dan lainnya. Sungguh Allah Maha Baik, Ia menggerakkan hati ini
untuk melamar menjadi guru pengajar di Sekolah Islam Al-Azhar Cairo Palembang.
Waktu itu sehari sebelum memberikan surat lamaran saya dibuat tertawa terbahak,
saya menelpon orangtua untuk memberitahu bahwa akan melamar disekolah yang saya
maksud. Kemudian, orangtua saya menanggapi niat saya tersebut dengan jawaban
“Tak usahlah nduk, jadi guru di sekolah Al-Azhar Cairo terlalu jauh mengajar di
Negeri orang Mesir” saya dibuat terkejut serta terbahak dan tak lupa saya
berikan penjelasan secara lengkap dan orangtua saya sangat mendukung dan tak
lupa mendoakan yang terbaik untuk anaknya.
Keesokan
harinya, kurang lebih pukul 08.30 WIB saya berangkat dari Inderalaya menuju
Sekolah Islam Al-Azhar Cairo Palembang menggunakan motor, sesampainya ditempat
kurang lebih pukul 10.00 WIB saya memarkirkan motor dan sedikit merapikan
pakaian yang lusuh karena perjalanan yang lumayan jauh. “Bismillah, takdir
karirku semuanya kuserahkan kepadamu Yaallah..” lirihku dalam hati sembari
mengeluarkan map coklat yang berisikan surat lamaran kerja beserta CV yang
kuharap pihak sekolah tertarik. Saya sampai tepat dilobby sekolah tersebut,
saya tertegun ketika melihat siswa yang kurang lebih seperawakan adik bungsu
saya yang saya perkirakan siswa sekolah dasar sedang memberikan salam ke
security sekolah. Iya, security sekolah pemandangan yang jarang terjadi bukan?.
Sampai tak sadar ada yang memanggil saya yang merupakan security sekolah,
“Mbak, eh mbak mau kemana ya mba?” setelah beberapa detik saya baru tersadar
“Oh, iya Pak. Ini saya mau memasukkan surat lamaran kerja saya disekolah ini.
Jadi, ruangan mana ya Pak agar berkas saya diterima oleh pihak sekolah?”
langsung pertanyaan saya ditanggapi “Berkasnya, diletakkan disini saja mba
nanti biarkan saya yang memberikan berkasnya kepihak sekolah”, dengan perasaan
sedikit kecewa karena tidak bisa masuk lebih untuk menelisik sekolah yang
membuat saya tertegun itu dan seolah sekolah itu menjadi Magnet menarikku agar
aku kembali lagi kesini.
Secuil harap,
untuk diterima di Sekolah Islam Al-Azhar Cairo Palembang yang notabennya
sekolah internasional bahkan teman kampusku berlomba untuk bisa menjadi guru
pengajar disana. Pertanyaan saya sedikit terjawab, mengapa banyak yang berlomba
ingin mengajar disekolah itu ternyata pemandangan waktu itu yang jarang saya
lihat membuat tenang hati. Saya sedikit menghela nafas dengan kegelisahan saya
atas secuil harap untuk diterima. Sebentar, bukankah Allah mengabulkan Doa
hambanya sesuai prasangka hambanya. Jadi dengan penuh keyakinan saya lantunkan
dalam hati, pasti saya menjadi pengajar disekolah tersebut. Setelah beberapa
hari, kurang lebih sepekan terhitung dari berkas dimasukkan saya mendapat
telepon dari pihak sekolah untuk datang kesekolah dengan waktu yang telah
diberitahukan. Saya senang bukan kepalang, saya langsung memberi kabar ke
orangtua saya dan mereka ikut senang.
Keesokannya,
saya datang kesekolah tersebut lebih awal dengan waktu yang diberitahukan. Saya
begitu seksama mengamati kegiatan sekolah dan memperhatikan sikap siswa-siswi
disana. Ketika saya berjalan melewati siswa-siswi mereka selalu menyapa dengan
salam dan memberikan goresan senyum dipipi. Pada saat itu saya menuju kekantin
sekolah untuk sarapan agar perut yang sedari tadi tak sadar telah miscall untuk segera di isi makanan.
Sesampainya dikantin saya masih asik memaknai orang disekitar saya dalam
bersikap lantas membuat diri saya gagap yang tak sigap. Iya, contohnya saya
sibuk memperhatikan kegiatan orang disekitar membuat saya gagap yang niatnya
mau pesan Es jeruk tetapi tidak sengaja memesan Es lemon tea. Setelah dirasa
tubuh telah dipenuhi haknya yaitu diberikan sarapan saya langsung bergegas
menemui Guru yang kemaren menelpon saya. Saya tidak lupa mengabadikan moment
pertama saya disekolah tersebut menggunakan Handphone saya dengan disertai caption yang isi nya pengalaman pertama
saya berada di Sekolah Islam Al-Azhar Cairo Palembang. Sesampainya saya disalah
satu ruangan, saya bertemu dengan Ibu Tere yang menelpon saya sedari awal.
Beliau menjelaskan, berbagai rangkaian test yang akan saya lalui untuk menjadi
pengajar disekolah tersebut. Awalnya saya sedikit dibuat cemas akan rangkaian
test yang begitu lumayan menegangkan karena pada saat itu saya baru lulus dari
Universitas. Tetapi saya semakin dibuat tertantang olehnya dan memberikan
pengalaman terbaik bahwa cetakan guru-guru pengajar disekolah ini bukan
sembarangan orang tetapi menjadi pengajar pilihan yang Allah pilihkan.
Alhamdulillah rangkaian test berjalan dengan lancar sehingga sampai kepada test
terakhir yaitu test wawancara yaitu wawancara bersama ketua Yayasan, Buk Lisa
Fandouza. Pertemuan pertama saya dengan Buk Lisa, sungguh pengalaman yang
berkesan karena ini bisa dikatakan interview
perdana saya dalam melamar pekerjaan. Saya membenarkan quotes yang pernah saya
baca “Melangit untuk Membumi”,
meskipun kita berada diatas baik itu jabatan dan lainnya maka kita harus tetap
mempunyai jiwa yang rendah hati dan lugas bertutur kata. Hal ini saya dapati
dari sosok beliau, Buk Lisa. Perbincangan kami sungguh hangat dan Ingat sekali
beliau katakan ditengah perbincangan “Apapun Profesi kita baik itu jadi guru BK
atau guru mata pelajaran apapun, disekolah ini wajib memberikan nilai-nilai
islam terhadap materi yang kita berikan kepada peserta didik” seketika hati
saya tersentak mendengarkan hal itu. Apakah ini jawaban-Nya terhadap doa-doa
yang dulunya kupanjatkan menjadi guru pengajar yang kuiimpikan?
Alhamdulillah,
dihari wawancara itu juga saya diterima menjadi guru pengajar di Sekolah Islam
Al-Azhar Cairo Palembang dan melewati tiga bulan masa training. Di hari pertama bekerja saya langsung diperkenalkan
dengan rekan kerja sesama pengajar disekolah. Menurut saya, tidak begitu sulit
masa penjajakan lingkungan terutama dengan rekan kerja yang sungguh welcome dalam menerima saya sebagai
pengajar baru. Pernah bilang ke orangtua via telepon “Kok Allah baik banget
ngasih lingkungan yang Agamis dan rekan kerja yang sungguh baik hati”. Seiring
berjalannya waktu, saya pun belajar memahami sistem pembelajaran disekolah ini.
Aktivitas siswa yang agamis ditandai dengan Sholat Sunah Dhuha, kemudian
dilanjutkan dengan Tilawah sebelum memulai kegiatan belajar mengajar dan materi
yang disusun secara apik dengan nilai-nilai Islam secara komprehensif. Ini
bukan sekedar tujuan yang hanya digaungkan sekolah tetapi ini nyata adanya,
bahkan siswa-siswi disini juga dituntut untuk menjadi penghafal Al-qur’an.
Tindakan serius yang dilakukan sekolah ialah dengan di perbanyaknya jam
mengajar pada pelajaran Tahfidz agar cetakan sekolah Al-Azhar menjadi penghafal
Al-qur’an dan menjadi Qurrota A’yun bagi orangtua.
Pertemuan
kembali dengan Ketua Yayasan, Buk Lisa. Beliau menegaskan tujuan utama menjadi
pengajar di Sekolah Islam Al-Azhar Cairo Palembang, beliau mengatakan “Apabila
disini kalian menjadi pengajar hanya ingin mendapatkan uang, silahkan perbaiki
niat kembali. Lalu, niatkan bahwa kalian disini menjadi pengajar yang
mengajarkan peserta didik agar paham akan Islam dengan istilah menjadi
pendakwah”. Lagi, lagi saya merenungkan kalimat tersebut dan benar apa yang
dikatakan oleh Hassan Al-Banna “Nahnu
du’at qabla kulli syai in” kita adalah
Da’i sebelum menjadi apapun. Ketika kita sadar menuntut ilmu dan mempunyai
pengetahuan dan saat itu pula kita memiliki kewajiban untuk menyebarluaskan
ilmu yang dimiliki tersebut.
Dengan
berbekal keyakinan secuil harap,
hingga memiliki perjalanan yang bertabur
makna kehidupan. Allah mempunyai skenario terbaik-Nya. Semoga Allah
Istiqomahkan hati-hati kita untuk tetap menyebarluaskan Ayat-ayat Allah di
belahan bumi milik-Nya. Wallahu’alam bisawab
Salam
cinta dan semangat,
Ninda
Anugerah,

Komentar
Posting Komentar