“Kalau aku suka pagi yang mendung, aneh nggak?” tanya Ameera di sela-sela photoshoot. Di tangannya ada seikat bunga yang menjadi properti mereka hari ini.
Sang fotografer, pemuda yang sudah bertahun-tahun menjadi sahabatnya, sibuk membidik foto. Ia menjawab kalimat Ameera dengan gumaman tak acuh, “Nggak.”
“Kalau aku suka cerita-cerita ga penting gara-gara situasi yang aku buat, aneh nggak?”
“Nggak.”
“Kalau aku—” Ameera terdiam sebentar, matanya memandang ke atas seolah di sana ada lanjutan kalimatnya, “Tunggu, aku mikir dulu aku sukanya apa lagi.”
Pemuda itu berdecak jengkel. “Raak,” tegurnya. “Nggak bisa diam amat, sih?”
Yang ditegur malah cengengesan. “Yeee, suruh siapa aku dijadiin model?”
“Terserahlah. Sini balikin ke aku bunganya, kita ganti properti.”
Ameera menyodorkan kumpulan bunga tersebut pada sahabatnya. Bukannya melepas, gadis itu malah mempererat genggamannya ketika si pemuda hendak mengambil alih bunga. “Satu pertanyaan lagi,” kata Ameera, nadanya serius.
“Apa?”
“Kalau aku ga mau kamu pergi, aneh nggak?”
Jantung pemuda itu langsung berdenyut lebih lambat selama sepersekian detik, sebelum terasa mau meledak. Buru-buru dia mencoba mengendalikan dirinya sendiri.
“Apaan sih, bercandanya nggak lucu,” katanya ketus. Direbutnya dengan paksa bunga dari tangan Ameera. Sial. Benaknya tadi sempat kacau. Apa sih yang Ameera pikirkan waktu tiba-tiba bercanda seperti tadi?
Pasti gadis itu tidak sadar betapa bahayanya kalimat tersebut—terutama jika diucapkan pada pemuda yang telah ia sia-siakan berkali-kali

Komentar
Posting Komentar